Rumah Adat Kalimantan Timur: Ciri Khas dan Keunikanya

Rumah Adat Kalimantan Timur- Kalimantan Timur merupakan salah satu provinsi di Indonesia yang ada di pulau Kalimantan. Pulau Kalimantan termasuk pulau terbesar yang kaya akan Flora dan Fauna di Indonesia. 

Kalimantan juga sangat terkenal dengan upacara suku dayak, dimana seluruh penarinya mengenakan pakaian adat Kalimantan Timur. Salah satu kebudayaan penting adalah rumah adat yang menjadi ikon utama provinsi Kalimantan Timur. Begitu juga dengan budaya lain yang ada disana tidak lepas dari campur tangan leluhur mereka terdahulu.

Contoh rumah adat Kalimantan Timur yang paling terkenal adalah rumah adat lamin. Rumah lamin dihuni oleh suku asli Kalimantan yaitu Dayak Kenyahk. Rumah ini cukup unik karena dari segi kontruksi dan arsitektur saat membangun rumah perlu dilakukan ritual ritual khusus karena dipercaya untuk keberkahan dan ketahanan rumah yang mampu berdiri selama bertahun tahun.

Filosofi Rumah Adat Kalimantan Timur

rumah lamin
rumah.com

Rumah adat Kalimantan Timur adalah salah satu hunian atau tempat tinggal suku suku yang ada di Kalimantan. Hunian ini berupa rumah panggung dengan kontruksi yang di buat dengan bahan bahan alami seperti kayu, daun, dan bambu.

Rumah adat diatas memiliki bangunan yang cukup besar dan memanjang sehingga mampu ditempati oleh banyak orang. Ukuran rumah yang cukup besar ini memiliki makna filosofis yang sangat kental dengan suku Dayak.

Luas ukuran rumah menandakan bahwa masyarakat suku Dayak hidup dalam kebersamaan pada satu atap rumah. Dipercantik oleh ornamen dan ukiran dinding yang membuat rumah menjadi lebih menarik. Penambahan hiasan ini di percaya oleh masyarakat setempat sebagai jimat penolak bala.

Terdapat filosofi mengenai cat warna rumah yang memiliki arti pada setiap warnanya. Warna cat rumah ini ada empat jenis yaitu kuning, merah, biru, dan putih.

Warna kuning melambangakan sebuah kewibawaan dan kehormatan masyarakat suku Dayak. Warna merah menggambarkan sebuah keberanian dalam setiap jiwa masyarakat suku Dayak. Warna biru menandakan loyalitas dan kebersamaan yang terjalin rukun antara satu sama lain. Warna putih melambangkan kesucian dan kebersihan yang menjadi landasan jiwa dari suku Dayak.

Baca Juga :

Nama Nama Rumah Adat Kalimantan Timur

Gambar rumah adat Kalimantan Timur diatas adalah gambaran kontruksi dari seluruh rumah yang ada di Kalimantan Timur. Rumah adat ini kebanyakan dibangun dengan bahan baku alami hasil dari hutan Kalimantan.

Pembangunan rumah yang berbentuk panggung juga memiliki fungsi tertentu seperti menghalau air ketika banjir datang maupun untuk menghindari ancaman hewan buas. Rumah adat Kalimantan Timur dan keunikanya sekarang banyak yang di renovasi untuk kebutuhan pariwisata.

Berikut Nama Nama Rumah Adat Kalimantan Timur Adalah :

  1. Rumah Adat Lamin
  2. Rumah Adat Bulungan
  3. Rumah Adat Paser
  4. Rumah Adat Suku Wehea
  5. Rumah Adat Betang

Dari keseluruhan rumah adat dibangun berbentuk besar dengan model rumah panggung. Dari kelima jenis rumah adat ini juga yang paling terkenal adalah rumah lamin. Kontruksinya di renovasi ulang karena terdapat beberapa yang digunakan sebagai penginapan di sebuah objek wisata di Kalimantan.

Berikut adalah rumah adat kalimantan timur beserta penjelasannya.

1. Rumah Adat Kalimantan Timur Lamin

rumah adat kalimantar timur lamin
rimbakita.com

Rumah adat lamin adalah rumah tradisional yang paling terkenal di Kalimantan Timur. Rumah adat ini memiliki ukuran yang sangat besar dan memanjang.

Rumah adat lamin adalah salah satu warisan budaya dari leluhur kita terdahulu yang masih dilestarikan hingga sekarang.

Rumah adat lamin memiliki kesamaan dengan Rumah Adat Sumatera Selatan yaitu dibangun dengan arsitektur rumah panggung. Rumah ini terbuat dari bahan alami seperti kayu, bambu, dan ijuk.

Pemilihan kayu juga menjadi syarat nomor satu ketika membangun rumah ini agar rumah dapat bertahan lama hingga puluhan tahun. Kayu yang digunakan adalah kayu ulin khas Kalimantan, konon kayu ulin dipercaya dapat membawa keberkahan bagi penghuni rumah.

Pemilihan kayu ulin menjadi syarat utama karena jenis kayu yang satu ini apabila terkena air kekuatan dan ketahan kayu akan semakin bertambah serta semakin lama kayu disimpan akan semakin keras dan kuat.

Rumah adat lamin dihuni oleh suku Dayak Kalimantan. Rumah lamin mampu menampung sekitar 15 sampai 30 kepala keluarga bahkan lebih. Ukuran rumah yang panjangnya sekitar 300 meter dan lebar 15 meter ini membuat rumah lamin mampu menampung lebih dari 30 kepala keluarga.

Bangunan rumah memiliki tinggi sekitar 10 meter diatas tanah. Rumah terlihat tinggi karena memiliki ukuran yang cukup besar dan jarak tiang peyangga dengan tanah sekitar 3-4 meter berjumlah 30 tiang.

Keunikan rumah adat Kalimantan Timur lamin ini terletak pada patung patung atau biasa disebut dengan nama totem. Totem adalah istilah Dayak dari patung patung dewa yang di anggap mampu memberikan karunia dan keberkahan bagi masyarakat suku dayak.

Ruangan rumah lamin terbagi menjadi beberapa yaitu ruang tidur, ruang tamu, dapur, ruang pusaka, dan ruang berdoa. Seluruh ruangan ini berjumlah banyak terkecuali pada ruang pusaka dan ruang berdoa. Apabila tetua suku ingin melakukan upacara adat, ruangan yang di gunakan adalah ruang berdoa karena tergolong pribadi dan tersembunyi.

Baca Juga :

2. Rumah Adat Bulungan

rumah tradisional kalimantan timur
rimbakita.com

Pembahasan kedua ada rumah adat Kalimantan Timur disebut rumah Bulungan. Rumah adat ini tergolong berbeda dari rumah adat lainya. Rumah bulungan memiliki campuran gaya arsitektur antara kolonial Belanda, Dayak, dan Melayu.

Rumah ini terlihat sangat berbeda karena bentuk rumah yang tidak menggunakan gaya rumah pnggung. Rumah ini berdiri langsung di atas tanah layak nya Rumah Adat Jawa Timur.

Pembangunan rumah tersebut disebabkan adanya pengaruh dari masa penjajahan kolonial Belanda pada zaman dahulu. Perdagangan dan pemerintahan di pegang oleh Belanda sehingga dahulu rumah bulungan digunakan sebagai tempat pertemuan pada masa kesultanan bulungan.

RUmah ini tergolong langka karena dewasa ini jarang sekali orang membangun dengan model rumah ini. Kamu dapat menjumpai rumah bulungan yang masih sangat asli dan terawat di daerah Tanjung Selor.

Ruangan rumah ini sama halnya dengan rumah adat lainya yaitu memiliki kamar tidur, ruang keluarga, dapur, dan runag pertemuan. Namun uniknya, diseluruh dinding rumah terdapat ornamen tumbuhan dan bunga sebagai hiasan dan ornamen tanduk pada ujung atap rumah bulungan.

Selain itu, rumah ini juga dipercantik dengan warna cat yang sangat serasi berupa warna putih, kuning, merah dan hijau. Warna warna ini melambangkan seluruh jati diri dari masyarakat dayak yang menghuni rumah bulungan.

  • Putih : Melambangkan kesucia dan kebersihan jiwa manusia.
  • Kuning : Melambangkan kesetiaan dan kerukunan dalam bermasyarakat.
  • Merah : Melambangkan keberanian dan kegigihan manusia.
  • HIjau : Melambangkan sikap adil.

3. Rumah Adat Paser

rumah adat paser
rumah.com

Selanjutnya rumah adat Kalimantan Timur adalah rumah adat Paser yang umumnya di bangun di tepian sungai Kalimantan. Karena letaknya di tepian sungai, rumah adat ini di bangun dengan gaya rumah panggung untuk menghindari air yang masuk ketika terjadi banjir.

Rumah adat ini adalah tempat tinggal suku paser yang ada di Kalimantan. Suku paser menganggap sungai sebagai sumber kehidupan. Maka dari itu rumah ini dibangun di tepi sungai.

Ukuran rumah cukup besar yaitu panjang 20 meter dan lebar 15 meter. Rumah paser dapat memapung 10 sampai 15 orang, apabila di gabungkan menjadi 3 sampai 4 kepala keluarga.

Rumah paser dibangun dengan bahan kayu ulin yang di percaya kuat dan tahan lama. Pemilihan kayu ulin karena kayu ini ketika terkena air kekuatanya semakin bertambah sehingga rumah mampu bertahan lama. Untuk atap rumah terbuat dari daun nipah, atau kulit kayu sungkai yang sudah di keringkan.

Bagian depan rumah di perindah dengan ukiran khas suku paser. Ukiran ini merupakan kreatifitas suku paser yang sudah ada sejak dulu dan tetap di lestarikan hingga sekarang.

Baca Juga :

4. Rumah Adat Suku Wehea

rumah eweang suku wehea
rimbakita.com

Suku Wehea adalah suku pertama di Kalimantan yang membangun rumah adat di tepian sungai. Terdapat banyak nama sungai yang di tepianya terdapat bangunan ini. Sungai tersebut bernama Sungai Wehea atau Long Msaq Teng dan Sungai Tlan.

Rumah adat suku wehea ini bernama rumah eweang yang seluruhnya terbuat dari bahan kayu. Rumah adat ini juga berbentuk panggung setinggi 2 meter diatas tanah untuk menghindari datangnya banjir.

Keunikan rumah adat Kalimantan Timur eweang ini terletak pada tangga rumah yang menyambung satu sama lain. Dalam satu komplek rumah biasanya terdapat 8 sampai 10 rumah berjejer dan seluruhnya tersambung oleh tangga. Tangga rumah eweang ini disebut dengan nama teljung.

Model rumah ini tergolong maju karena arsitektur rumah yang terlihat kekinian hanya saja bahan baku rumah yang masih berasal dari alam. Untuk atapya juga sudah menggunakan seng sehingga lebih meminimalisir terjadinya kebocoran saat hujan tiba.

5. Rumah Adat Kalimantan Timur Betang

rumah adat kalimantan timur betang
rumah.com

 

Dan yang terakhir adalah rumah betang yang juga termasuk rumah adat Kalimantan Timur. Betang adalah rumah yang memiliki jumlah pilar cukup banyak sekitar 30 buat. Panjang pilar rumah ini mencapai 2-3 meter diatas tanah dan memiliki ukuran yang sangat besar.

ukuran rumah betang mencapai panjang 100 meter dan lebar 50 meter. Rumah ini termasuk jenis rumah panggung yang memanjang kebelakang dengan satu atap utama yang memiliki kemiringan 45 derajat.

Rumah betang terbuat dari kayu ulin yang terkenal dengan keras dan kekuatanya. Atap rumah  terbuat dari bahan ijuk dan daun hutan yang dikeringkan. Walaupun atap ini menggunakan bahan alam, penghuni rumah tidak akan merasakan kebocoran atap karena pembuatanya yang rapat dan rapi.

Dahulu rumah ini digunakan sebagai tempat tinggal yang mampu manampung 50 orang sekaligus. Di dalam rumah ini juga terdapat 30 kepala keluarga dari kakek, nenek, hingga cucu mereka.

Masyarakat setempat percaya kaetika tinggal pada satu atap yang sama maka akan terjalin ketentraman dan keharmonisan sebuah keluarga. Konsep ini juga menjadi alasan kerukunan dan giat bermasyarakat suku Dayak.

Pembangunan rumah ini juga memiliki filosofi yang bermakna tentang kesejahteraan hidup manusia. Rumah ini dibangun menghadap ke arah timur dan barat.

Bagian depan rumah yang menghadap timur menggambarkan kerja keras manusia dalam memulai suatu pekerjaan untuk kebutuhan keluarganya. Dan bagian belakang mengahadap barat menggambarkan manusia yang tak kena lelah mencari nafkan untuk keluarga yang tidak berhenti ketika matahari belum tenggelam.

Leave a Reply

%d bloggers like this: