Tembang Macapat Lengkap dengan Penjelasannya

Published by iqbal alaudin on

Kata “tembang” adalah kata yang cukup familiar di telinga kita terutama masyarakat jawa. Tembang adalah bahasa jawa dari lagu, syair, atau puisi jawa. Tembang jawa yang cukup sering didengar oleh masyarakat yaitu tembang Macapat (ꦩꦕꦥꦠ꧀). Sejak jaman majapahit tembang ini sudah di lestarikan oleh masyarakat setempat, bahkan sebelum berdirinya majapahit tembang ini sudah ada. Tembang ini memiliki dan maksud tujuan sebagai pengingat akan kehidupan manusia yang seharusnya.

Penjelasan Lebih Lengkapnya, Ada Dibawah Ini.

Tembang macapat adalah lagu, syair, atau puisi jawa yang dilestarikan oleh masyarakat jawa hingga saat ini. Inti utama tembang macapat yaitu menggambarkan tentang kehidupan manusia dari lahir, kanak kanak, dewasa, hingga kematian. Salah satu kebudayaan jawa yang memiliki filosofi untuk menyadarkan manusia akan pentingnya arti sebuah kehidupan.

Tembang macapat atau tembung macapat memiliki karakteristik, watak, serta sifat yang berbeda beda dari setiap judul nya. Tembang cilik adalah sebutan lain dari tembang ini. Dinamakan demikian karena salah satu kesenian tembang jawa yang paling gampang untuk nyanyikan dan dihafalkan. Ciri ciri dari tembang macapat adalah memiliki guru lagu, guru wilangan, dan guru gatra.

Sejarah Tembang Macapat

kraton kuno

prasstyle.com

Banyak didengar oleh masyarakat adalah tembang macapat yang diciptakan saat akhir masa kerajaan majapahit. Banyak orang yang mengenal tembang ini tercipta di dalam lingkup Kraton. Namun, sebenarnya tembang ini tercipta di luar lingkup Kraton yang pada masa itu berdiri kerajaan Jawa Kuno. Karena ada nya  kemauan untuk melestarikan budaya ini maka pihak Kraton lah yang menyempurnakan kesenian tembang macapat.

Wali sanga juga salah satu kelompok dakwah islam yang melestarikan kebudayaan Jawa termasuk kesenian tembang macapat ini. Karena pada masa itu orang orang Jawa dan Bali masih dipenuhi dengan agama hindu dan budha. Bahkan masyarakat Jawa dan Bali sudah mengenal tembang ini yang berasal dari nenek moyang mereka.

Dalam kosmologi Jawa dijelaskan, terdapat satu wilayah pada zaman itu di luar kraton yang bernama Macapat. Daerah macapat sebenarnya sudah ada sebelum Kerajaan Majapahit. Pada waktu itu, tembang macapat tersebar luas di luar tembok Kraton. Di dalam kerajaan Kraton saat itu terdapat jenis tembang lain yang dinamakan tembang kakawin yang merupakan adaptasi dari Kawi Sansekerta.

Seiring berjalannya waktu dengan lunturnya pengaruh budaya India di Kraton Majapahit, jenis tembang jawa yang berasal dari daerah macapat tersebut dibawa masuk ke dalam wilayah kerajaan Kraton. Ujar pakar sastra Jawa Kuno dari Jurusan Sastra Nusantara, Fakultas Ilmu Budaya UGM, Manu Jayaatmaja Widya Seputra. 

Dahulu kala wilayah Yogyakarta merupakan pusat kerajaan Jawa Kuno yang akhirnya pusat kerajaan tersebut pindahkan ke Jawa Timur. Brahmana merupakan salah satu penguasa di wilayah Yogyakarta pada zaman itu. Daerah macapat membentang luas dan salah satunya adalah Yogyakarta yang saat itu berada pada wilayah kerajaan Mataram Kuno.

Kemudian para ahli kebudayaan dan sejarawan meniliti dan menafsirkan bahwa asal usul tembang macapat sejak zaman Mataram Kuno, tepatnya di wilayah Yogyakarta. “Wilayah Ngayogyakarta duhulu merupakan wilayah para Brahmana yang merupakan wilayah macapat dari Kerajaan Mataram Kuno. Maka dari itu, penelitian terakhir menyimpulkan bahwa asal usul tembang ini dari Yogyakarta,  karena tembang jawa inilah yang di lestarikan dan di sebar luaskan oleh para Brahmana,” papar Manu.

Macapat pada masa itu disebut kidung atau syair. Terdapat dua Kidung pada zaman itu yaitu kidung tantri Kediri dan tantri demung. Ranggalawe merupakan salah satu lagu jawa yang terkenal di daerah Bali dan Jawa. Kkidung tersebut sudah ada sejak tahun 1334 Masehi. Tradisi tembang macapat sendiri sudah sejak lama ada yang saat itu berdiri kerajaan Jawa Kuno.

Tembang atau puisi tradisional macapat memiliki Karakteristik dan sifat tertentu, meliputi guru gatra, guru wilangan, dan guru lagu. Aspek aspek inilah yang dinamakan metrum. Metrum berfungsi sebagai pembeda jenis tembang satu dengan jenis tembang yang lain.

Tembang macapat terdiri dari 11 macam tembang, yaitu tembang maskumambang, mijil, sinom, kinanthi, asmaradhana, gambuh, dhandhanggula, durma, pangkur, megatruh, dan pocung. Dari 11 macam tembang macapat tersebut memiliki maksud dan tujuan yang berbeda beda. 

Baca Juga :

Pengertian Guru Garta, Guru Lagu, dan Guru Wilangan

wayang yang di iringi tembang jawa

pinterest.com

  • Guru Gatra adalah banyaknya jumlah larik/baris dalam satu bait.
  • Guru Lagu adalah jatuhnya persamaan bunyi sajak dalam setiap akhir kalimat.
  • Guru Wilangan adalah banyak jumlah suku kata dalam setiap baris.

Dalam tembang macapat memiliki karateristik, watak, dan sifat dari masing masing judulnya. Hal ini yang menjadi ciri ciri dari 11 judul tembang macapat tersebut.

No.Tembang MacapatGuru GatraGuru WilanganGuru Lagu
1.Maskumambang412, 6, 8, 8I, A, I, A
2.Mijil610, 6, 10, 10, 6, 6I, O, E, I, I, U
3.Sinom98, 8, 8, 8, 7, 8, 7, 8, 12A, I, A, I, I, U, A, I, A
4.Kinanthi68, 8, 8, 8, 8, 8U, I, A, I, A, I
5.Asmaradhana78, 8, 8, 8, 7, 8, 8A, I, E, A, A, U, A
6.Gambuh57, 10, 12, 8, 8U, U, I, U, O
7.Dhandhanggula1010, 10, 8, 7, 9, 7, 6, 8, 12, 7I, A, E, U, I, A, U, A, I, A
8.Durma712, 8, 6, 7, 8, 5, 7A, I, A, A, I, A, I
9.Pangkur78, 11, 8, 7, 12, 8, 8A, I, U, A, U, A, I
10.Megatruh512, 8, 8, 8, 8U, I, U, I, O
11.Pocung412, 6, 8, 12U, A, I, A

Jenis Jenis Tembang Macapat

1) Tembang Macapat Maskumambang :

tembang macapat

pinterest.com

Tembang macapat maskumambang berasal dari kata “mas” dan “kumambang“. Mas atau emas memiliki makna terhadap sesuatu yang sangat berharga. Arti kata ini menggambarkan suatu benda kecil yang berada di dalam kandungan dan merupakan harta yang tidak ternilai harganya. Sedangkan kata mambang atau kumambang memiliki arti mengambang. Makna secara keseluruhan dari kata “maskumambang” adalah janin yang sangat berharga hidup dalam rahim ibunya. Janin tersebut akan hidup di dalam rahim ibunya dan tumbuh berkembang selama 9 bulan.

  • Contoh Tembang Maskumambang :

Ojo sira niru tindak kang tan becik…

Senadyan wong liya…

Lamun pamuruke becik…

Miwah ing tidak prayoga…

Artinya :

Jangan kamu meniru perbuatan yang tidaklah baik…

Walaupun orang lain…

Tapi ajarannya baik…

Serta berkelakuan sepantasnya…

  • Paugeran :

Guru Gatra : 4

Guru Wilangan : 12, 6, 8, 8

Guru Lagu : I, A, I, A

2) Tembang Macapat Mijil :

bayi baru lahir

pinterest.com

Dalam bahasa jawa tembang mijil memiliki makna “yang pertama”.  Mijil menggambarkan tentang kelahiran bayi di dunia yang telah dirawat ibu dalam kandungan selama 9 bulan. Ada juga yang menafsirkan bahwa kata mijil bermakna lahirnya atau munculnya keinginan untuk menjadi lebih baik.

Tembang macapat mijil memiliki arti muncul, keluar, tampil, atau yang berkaitan dengan kelahiran seorang bayi. Itulah yang menjadi sebab tembang mijil ini ditempatkan di nomor dua setelah tembang maskumambang yang membahas tentang janin dalam kandungan ibu.

  • Contoh Tembang Mijil :

Lan den nedya prawira ing batin…

Nanging aja katon…

Sasabana yen durung mangsane…

Kekendelan aja wani mingkis…

Wiweka ing batin…

Den samar den semu…

Artinya :

Dan milikilah sifat ksatria di dalam batin…

Namun jangan diperlihatkan…

Rahasiakan jika belum sampai pada masanya…

Atas keberaniannya jangan sampai dihilangkan…

Tatalah dalam batinmu…

Agar menjadi samar dan semu…

  • Paugeran :

Guru Gatra : 6

Guru Wilangan : 10, 6, 10, 10, 6, 6

Guru Lagu : I, O, E, I, I, U

3) Tembang Macapat Sinom :

anak melantunkan tembang

pinterest.com

Tembang macapat selanjutnya adalah tembang sinom membahas tentang anak yang mulai tumbuh dewasa yang ingin tahu segala hal. Remaja pada masa ini adalah ketika mengalami pubertas dimana seorang remaja yang sedang mencari jati diri mereka. Pada masa ini diharuskan untuk menuntuk ilmu sebanyak banyaknya dan pintar dalam memilih dan memilah pergaulan. Teman dan lingkungan sekitar dapat mempengaruhi perilaku dan gaya hidup seorang remaja.

  • Contoh Tembang Sinom :

Ujaring panitisastra…

Awewarah asung peling…

Ing zaman keneng musibah…

Wong ambeg jatmiko kontit…

Mengkono yen niteni…

Pedah apa amituhu…

Parwata lolawaran…

Mundhak anggreranta ati…

Angur angiket caritaning kuno…

Artinya :

Menurut buku panitisastra…

Memberikan ajaran  yang mengingatkan…

Di zaman yang penuh dengan gangguan dan kejahatan…

Orang yang berbudi tidak terpakai…

Demikian itu kalau kita meneliti dengan seksama…

Apa gunanya mempercayainya…

Kabar yang tidak dijelaskan…

Hanya akan menyusahkan hatinya…

Lebih baik menulis cerita di zaman kuno…

  • Paugeran :

Guru Gatra : 9

Guru Wilangan : 8, 8, 8, 8, 7, 8, 7, 8, 12

Guru Lagu : A, I, A, I, I, U, A, I, A

4) Tembang Macapat Kinanthi :

orang tua menasehati anaknya

pinterest.com

Tembang kinanthi adalah tembang yang menjelaskan tentang masa bimbingan seorang anak. Masa ketika seorang anak perlu dituntun dan diarahkan agar tidak terjerumus pada jalan yang salah. Tembang macapat kinanthi menggambarkan seorang anak yang sudah mulai beranjak dewasa. Anak yang sudah mengerti akan suatu yang baik dan buruk. Remaja selalu memiliki rasa ingin tau yang banyak. Tugas kita sebagai orang tua adalah mengarahkan, membimbing, dan memotivasi agar memiliki pandangan hidup yang jelas.

  • Contoh Tembang Kinanthi :

Pangasahe sepi samun…

Aywa esah ing salami…

Samangsa wis kawistara…

Lalandhepe mingis mingis…

Pasa wukir reksamuka…

Kekes srabedaning budi…

Artinya :

Mengasahnya di alam sepi “semedi”…

Jangan berhenti selamanya…

Apabila sudah kelihatan…

Tajamnya yang luar biasa…

Mampun mengiris gunung penghalang…

Lenyaplah semua penghalang budi…

  • Paugeran :

Guru Gatra : 6

Guru Wilangan : 8, 8, 8, 8, 8, 8

Guru Lagu : U, I, A, I, A, I

5) Tembang Macapat Asmaradhana :

tembang asmaradhana

pinterest.com

Tembang macapat selanjutnya adalah tembang asmaradhana. Asmaradhana berasal dari dua kata yaitu “Asmara” yang memiliki makna asmara, cinta dan kasih sayang dan kata “Dhana” memiliki makna berapi api. Dalam keseluruhan makna tembang asmaradhana dapat di artikan sebagai seseorang yang sedang kasmaran atau jatuh cinta yang memiliki pesarasaan terhadap lawan jenis yang menggebu gebu.

Tembang macapat yang satu ini menggambarkan tentang kedewasaan seseorang yang menyukai lawan jenis. Setelah melalui proses remaja hingga dewasa, seorang manusia harus melanjutkan keturunan yaitu memilih pasangan yang serasi dan cocok untuk keluarga.

  • Contoh Tembang Asmaradhana :

Kidung kedresaning kapti…

Yayah nglamong tanpa mangsa…

Hingan silarja jatine…

Satata samaptaptinya…

Raket rakiting ruksa…

Tahan tumaneming siku…

Karasuk sakeh kasrakat…

Artinya :

Nyanyian keseriusan hati…

Seolah kacau tanpa kenal waktu…

Hingga keselamatan yang paling benar…

Siap akan hatinya…

Menjalani rangkaian masalah…

Tahan menghadapi kemarahan…

Menerima segala penderitaan…

  • Paugeran :

Guru Gatra : 7

Guru Wilangan : 8, 8, 8, 8, 7, 8, 8

Guru Lagu : A, I, E, A, A, U, A

6) Tembang Macapat Gambuh :

tembang gambuh

pinterest.com

Tembang macapat yang ke enam adalah tembang gambuh. Filosofi tembang Gambuh ini membahas tentang perjalanan hidup seseorang yang telah bertemu dengan pasangan yang sesuai. Dua insan tersebut dipertemukan untuk menjalin hubungan yang lebih sakral yaitu dengan pernikahan. Sehingga pasangan tersebut akan berkeluarga dan memiliki kehidupan yang harmonis

  • Contoh Tembang Gambuh :

Tutur bener puniku…

Sayektine apantes tiniru…

Nadyan metu saking wong sudra papeki…

Lamun becik nggone muruk…

Iku pantes siro anggo…

Artinya :

Ucapan benar yaitu…

Yang pantas untuk ditiru…

Meskipun dari orang yang derajatnya lebih rendah…

Namun jika pengajarannya baik…

Maka pantas ditiru…

  • Paugeran :

Guru Gatra : 5

Guru Wilangan : 7, 10, 12, 8, 8

Guru Lagu : U, U, I, U, O

7) Tembang Macapat Dhandhanggula :

tembang dhandhanggula

pinterest.com

Filosofi tembang macapat dhandhanggula berasal dari nama raja kerajaan Kediri yaitu Prabu Dhandhanggendis yang bertahta setelah Prabu Jayabaya. Dhandhanggula berasal dari dua kata yaitu Gegedhangan”  yang memiliki aerti cita-cita, harapan, atau keinginan dan “gula”  yang memiliki arti manis. Tembang macapat ini menjelaskan kehidupan manusia tentang cita cita dan harapan yang indah. Bisa juga menjelaskan tentang suka dan suka perjalan hidup, menjalani kegiatan bersama keluarga dan memiliki harapan dan tujuan yang sama.

  • Contoh Tembang Dhandhanggula :

Yogyanira kang para prajurit…

Lamun bisa samiyo anuladha…

Duk ing nguni caritane…

Andelira sang Prabu…

Sasrabau ing Maespati…

Aran Patih Suwanda…

Lelabuhanipun…

Kang ginelung tri prakara…

Guna kaya purun ingkang den antepi…

Nuhoni trah utama…

Artinya :

Sudah sepantasnya seorang prajurit…

Hendaknya dapat meneladani…

Seperti cerita pada zaman dahulu…

Kepercayaan Sang Prabu…

Sasrabau di Maespati…

Yang bernama Patih Suwondo…

Kebaikannya…

Yang diselaputi oleh tiga perkara…

Berguna dan dapat dipegang teguh…

Meniru keluarga utama…

  • Paugeran :

Guru Gatra : 10

Guru Wilangan : 10, 10, 8, 7, 9, 7, 6, 8, 12, 7

Guru Lagu : I, A, E, U, I, A, U, A, I, A

8) Tembang Macapat Durma :

tembang durma

pinterest.com

Tembang macapat yang ke delapan adalam tembang durma. Tembang macapat durma menggambarkan tentang kehidupan manusia yang sudah berumah tangga ketika mengalami duka, memiliki kekurangan dan kelebihan. Sebagai sesama manusia hendaknya saling berbagi kekita ada yang membutuhkan. Kita bisa ambil hikmah dari tembang ini yang mengajarkan kita untuk guyub rukun dengan keluarga maupun tetangga, menerima dan saling melengkapi satu sama lain, gotong royong dan saling membantu kepada siapapun tanpa imbal balik.

  • Contoh Tembang Durma :

Ingkang eling Iku ngelingana marang…

sanak kadang kang lali…

Den nedya raharja…

Mangkono tindak ira…

Yen tan ngugu ya uwis…

Teka menenga…

Mung aja sok ngrasani…

Artinya :

Yang sadar itu ingatlah pada…

Sanak saudara yang lupa…

Cuma ingin hidup sejahtera…

Itulah yang harus dilakukan…

Kalau tidak percaya ya sudah…

Tinggal diam saja…

Hanya jangan membicarakannya di belakang…

  • Paugeran :

Guru Gatra : 7

Guru Wilangan : 12, 8, 6, 7, 8, 5, 7

Guru Lagu : A, I, A, A, I, A, I

9) Tembang Macapat Pangkur :

tembang pangkur

pinterest.com

Tembang macapat selanjutnya adalah tembang pangkur. Tembang macapat pangkur berasal dari kata “mungkur” yang berarti “siap meninggalkan” dalam artian siap meninggalkan hal yang buruk. Tembang macapat ini menjelaskan tentang manusia yang harus menjauhi hawa nafsu yang buruk. Kata siap meninggalkan dalam tembang macapat pangkur ini adalah manusia yang memiliki waktu untuk siap meninggalkan perkara duniawi dan lebih mementingkan perkara amal perbuatan baik.

  • Contoh Tembang Pangkur :

Bocah bocah podo sekolah…

Wiwit mbiyen nalikane iseh cilik…

Sregep anggone sinau…

Wayahe isuk lan awan…

Nglakonane perintahe para Guru…

Lan bisa ngerti agami…

Agami ngersaning Gusti…

Artinya :

Anak-anak pada sekolah…

Dahulunya ketika masih kecil…

Rajinnya untuk mecari ilmu…

Mulai dari pagi serta siang…

Mendengarkan perintah dari guru…

Dan bisa mengerti agama…

Agama menyembah Allah…

  • Paugeran :

Guru Gatra : 7

Guru Wilangan : 8, 11, 8, 7, 12, 8, 8

Guru Lagu : A, I, U, A, U, A, I

10) Tembang Macapat Megatruh :

kuburan

pinterest.com

Tembang macapat megatruh berasal dari dua kata yaitu “megat” yang bermakna berpisah dan “roh”, yang bermakna jiwa. Makna keseluruhan dari tembang ini adalah berpisahnya atau telah dicabutnya jiwa dari raga manusia. Tembangmacapat megatruh memiliki filosofi tetang perjalanan hidup manusia yang telah selesai. Tembang ini tergolong berita kesedihan dan duka yang dialami manusia.

Suatu saat entah itu pagi, siang, sore maupun malam semua manusia pasti akan mengalami kematian. Kematian terjadi setiap saat baik itu pada anak anak, remaja, maupun orang tua sekalipun. Tugas kita di dunia hanya memperbanyak perbuatan baik dan lebih mendekatkan diri kepada Tuham yang Maha Kuasa.

  • Contoh Tembang Megatruh :

Nalikane mripat iki wis ketutup…

Nana sing bisa nulungi…

Kajaba laku kang luhur…

Kang ditampi marang Gusti…

Aja ngibadah kang awon…

Artinya :

Disaat mata ini sudah tertutup…

Tidak ada yang bisa menolong…

Selain amal kebaikan…

Yang diterima oleh Tuhan…

Jangan berbuat hal buruk…

  • Paugeran :

Guru Gatra : 5

Guru Wilangan : 12, 8, 8, 8, 8

Guru Lagu : U, I, U, I, O

11) Tembang Macapat Pocung :

kuburan

tirto.id

Tembang macapat yang terakhir adalah tembang pocung berasal dari kata “pocong”. Tembang ini menjelaskan tentang manusia yang sudah meninggal dan dikafani atau dipocongi sebelum dikuburkan. Tembang macapat pocung menggambarkan tentang sebuah ritual adat setempat ketika melepas kepergian seseorang yang sudah meninggal pada tempat peristirahatan terakhir. Tembang ini bersifat kesedihan dan duka yang di alami manusia. Tembang macapat pocung sendiri juga mengingatkan kita akan kematian yang bisa terjadi pada siapapun, kapanpun, dan dimanapun.

  • Contoh Tembang Pocung :

Shalat iku kewajiban ingkang laku…

Lekase ket fajar…

Ibadah kang pancen kewajiban…

Shalat iku cagakke tiang agama…

Artinya :

Menjalankan sholat adalah kewajiban…

Di mulai dari fajar…

Shalat adalah ibadah yang wajib…

Sholat merupakan tiang agama…

  • Paugeran :

Guru Gatra : 4

Guru Wilangan : 12, 6, 8, 12

Guru Lag : U, A, I, A


1 Comment

Tembang Gambuh (Pengertian, Watak, dan Paugeran) - Prasstyle.com · 15 March 2021 at 12:54 am

[…] melestarikan budaya jawa adalah dengan belajar tentang tembang macapat, khususnya di daerah Jawa. Tembang macapat adalah kesenian warisan budaya dari Jawa, salah satu judul dari tembang ini adalah tembang […]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: